kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

Hey, Kamu: Tunggu Aku.

Hey, Kamu.

Aku melangkah dalam cemas menujumu, di malam yang terasa sepi dan dingin, saat waktu seolah mempersulit perjumpaan kita. Aku membawa hujan di sela-sela jemariku, menggenggamnya erat untuk kemudian kutebarkan agar kita dapat bercanda di bawah derasnya. Dibalut hangatnya jaket ungu, saat itu, aku melihat langit senja membias di matamu, di balik kacamata, dan kutemukan keteduhan di sana. Juga kedamaian di setiap alunan suaramu. Aku suka.

Kita bercakap di antara pantulan kaca-kaca jendela. Bercerita berbagai hal. Berbincang dalam kenyamanan. Bertatap dalam setiap kata yang terucapkan. Ketika akhirnya hijau dan sekotak susu akan selalu membuatku teringat akan kamu.

Kamu boleh sebut aku sebagai lelaki di masa depan yang datang ke masa ini hanya untuk menjemputmu dan membawamu berjalan menyusuri waktu dan hari-hari yang akan dilalui. Membawakan senyum yang akan menghiasi bibirmu setiap waktunya. Berpetualang menuju tempat ternyaman bagi kita berdua. Aku percaya bahwa semesta telah merancang ini semua. Semesta berkonspirasi menghadirkan pertemuan kita.

Sekarang, di sini, di seberang lautan, hujan, turun teramat deras, seperti kerinduan yang pekat dan berjatuhan bebas. Seperti hati yang ingin kembali lagi dan tak akan pernah pergi. Di balik secangkir kopi hitam, ada harap yang tak henti digumamkan. Mungkin kah nanti kita akan dapat lebih banyak menghabiskan waktu berdua? Berbagi banyak hal yang akan membuat kita tersenyum dan tertawa? Mungkin saja kita dapat menghabiskan malam di bawah bintang, di antara embusan udara malam, di antara hangatnya jemari yang saling menggenggam.

Aku masih ingat kata-katamu di suatu siang ketika aku memintamu berhati-hati saat kita bertemu, “Kalau kata buku yang saya baca, kata hati-hati itu sama dengan selamat. Dan selamat itu kata yang notabennya baik. Berarti saya akan selamat ketemu kamu..” Lalu, apakah kamu selamat setelah bertemu diriku? Dan ikut terjatuh juga, sama seperti yang aku rasa?

Empat hari yang panjang dibutuhkan untuk menuliskan kalimat-kalimat ini, menyelipkan kerinduan yang pekat, yang berdesakkan di antara setiap spasi, berserakan di setiap sisi hati yang mendekap. Jika kamu melihat derai hujan, damainya langit senja, sejuknya langit pagi, hijaunya pepohonan, percayalah bahwa ada aku yang sedang menatapmu dari langit di ujung sana. Meski di tempat yang berbeda, kita menatap langit yang sama.

Aku akan kembali. Tunggu saja. Dan kini kusertakan peluk hangat untukmu di balik setiap kata yang tertuju ini.

Hey, Kamu.
Tunggu aku. Mau kah?

“Pada suatu pagi, kita akan bertemu mata, bertatap muka, saling menggenggam, dan berbicara tentang apa saja hingga malam.”

image
#LangitPagiIni: Biru. Sangat. Seperti kerinduan yang menyengat. Pekat.

catatan: Ini surat ke dua setelah surat pertama yang kutuliskan untukmu. Mungkin saja akan ada surat-surat berikutnya. Berhati-hatilah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers