kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

Hey, Kamu.

Hey, kamu.

Aku  bisa  membayangkan keterkejutanmu saat  menerima  surat ini.  Karena aku pun pasti  akan terkejut  juga  saat  surat  ini kamu terima. Anggap saja bahwa aku adalah pemuja  rahasiamu  yang selalu mengamatimu  setiap  waktu,  di  balik  gelap,  di  antara  bintang,  di  bawah  hujan.  Dan kehidupan  bukanlah  sebuah  permainan  tebak-tebakan,  tetapi  boleh kan  aku  menerka-nerka tentang kamu?

Setiap  malam,  aku selalu membayangkan  seperti  apakah  gerangan  sosokmu.  Apakah  bermata  sipit  atau  besar,  dengan  alis mencuat  ataukah  tebal  berbaris?  Apakah  kamu  berkulit  kuning langsat  atau  kecokelatan?  Apakah  kamu  kurus  atau  gemuk  atau  bahkan  biasa  saja?  Dengan tinggi  yang  bisa  membuatku  mendongak  ataukah menunduk?  Rambutmu  panjang  lurus  atau bergelombang?  Mungkinkah  berambut  keriting  hingga sebahu  atau  berambut  lurus  pendek?  Lalu bibirmu, tipis seksi atau tebal menggoda? Jemarimu apakah mungil atau panjang-panjang?  Kuku berkutek pink ataukah hitam? Dan hidungmu itu, mancung ataukah biasa saja atau bahkan seperti Yati Pesek? Mungkinkah telingamu bertindik dua bahkan di bibir juga, atau malah kamu tak suka menggunakan anting-anting itu? Dan kakimu, apakah jenjang panjang ataukah berbetis besar dan pendek? Mulus seperti artis Korea ataukah jangan-jangan berbulu seperti pria? Wah! Sepatu atau sandal kah? Sepatu kets atau ber-hak tinggi? Atau kamu lebih menyukai tak beralas kaki saat bermain hujan? Apakah kamu lebih memilih memakai dress atau kombinasi jeans dan kaos? Dengan tas ransel ataukah tas perempuan pada umumnya?

Bagaimanapun  sosokmu,  aku  rasa,  aku  akan  menyukainya.  Karena  yang  terpenting  adalah sifat  dan  caramu  bersikap.  Aku  tak  peduli  apakah  kamu  gadis  yang  rapi  ataukah  berantakan.  Tapi kamu harus menyukai langit dan hujan. Itu hal pertama yang pasti akan membuatku jatuh cinta. Beragam pertanyaan selalu melintas setiap aku memikirkan tentangmu. Apakah kita akan bertemu tak sengaja berpapasan di jalanan ataukah bertemu karena berkumpul di suatu tempat seperti ini?

Ini bukan kebetulan ataupun ketidaksengajaan. Aku tahu, semesta sudah merancang semua ini untuk mempertemukan aku dan dirimu. Ada yang menyebutnya takdir. Tapi aku yakin bahwa ini bukan lah akhir. Tetapi awal dari semuanya.

Jadi  bisa  kan  mulai  sekarang  kita  saling mengenal lebih banyak?  Dan  perlahan  kita  akan berbincang tentang masa depan.

Hey, kamu.
Perkenalkan, ini aku. Lelaki masa depanmu.

“Pada suatu pagi, kita akan bertemu mata, bertatap muka, saling menggenggam, dan berbicara tentang apa saja hingga malam.”

2 Responses to Hey, Kamu.

  1. Pingback: Hey, Kamu: Tunggu Aku. « kamar depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.