kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

1000 Kupu-kupu di Kotak Surat

Hari itu bulan ke dua, hari yang sama, saat aku menemukan kupu-kupu hitam di lembar surat terakhir yang kuterima di kotak surat tua di suatu sore yang kelam. Surat terakhir darimu. Lalu sejak itu, aku memutuskan mematikan kembali hati yang padahal baru saja hidup kembali. Mulai menarik garis yang tak terlihat, menunjukkan batas yang tak boleh dilewati oleh siapa pun, untuk waktu yang lama. Dan hanya akan dibuka ketika saatnya tiba nanti, saat kamu kembali.

Tapi hari ini, hari yang sama pula seperti saat itu, setelah banyak waktu berlalu, aku telah memantapkan diri untuk benar-benar mematikan semuanya hingga waktu yang tak ditentukan. Mematikan hati dan harapan yang tak lagi tersisa. Hati yang dulu mati itu kini semakin mati dan membeku, semakin dalam. Mencoba untuk tak lagi merasa, tak lagi menduga. Aku mencoba menarik garis yang semakin tebal, yang tak hanya tak terlihat, bahkan tampak seperti dinding yang mendingin, yang tak mungkin dilewati oleh siapapun termasuk kamu.

Kamu, mungkin memang tak pernah melukaiku sedikit pun, setidaknya aku merasa kamu tak melakukannya. Tetapi setiap memikirkanmu dan mengingatmu, selalu saja membuatku terluka, seketika merasakan luka yang begitu hebatnya.

Kamu, mungkin juga tak pernah sedikit pun membuatku bersedih. Tetapi setiap mengingatmu dan memikirkanmu, selalu saja terasa kesedihan, seketika merasakan kesedihan yang luar biasa.

Aku senang telah mengenalmu dalam ketidaksengajaan yang semesta ciptakan. Aku bahagia karena kita pernah dipertemukan.  Aku hanya ingin menciptakan kenangan yang menyenangkan, tentang kamu, tentang kita. Kenangan singkat yang perlahan akan terlupakan. Seperti kupu-kupu di kotak surat darimu yang berangsur menghilang.

Kali ini, 1000 kupu-kupu di kotak surat yang kukumpulkan sejak hari terakhir itu, kubiarkan mereka berterbangan ke alam bebas. Biarlah segala kenangan melenyap lepas bersama setiap kepak sayapnya yang indah mengempas. Dan janji-janji, biarlah kusimpan sendiri. Biarlah diakhiri meskipun ini baru setengah dari perjalanan yang harus aku lalui. Aku bukannya menyerah, tapi merasa tak ingin melanjutkannya jika ujung akhir perjalanan ini sudah kuketahui bagaimana hasilnya nanti. Biarlah kamu bilang jika aku hanya menerka-nerka. Tapi siapakah yang bisa menebak apa yang terjadi di masa depan? Tidak kamu. Tidak pula aku.

Maka mulai saat ini, anggap saja aku memang tak pernah ada, sama sekali.
Atau kamu memang sudah menghilangkan keberadaanku sejak berwaktu-waktu yang lalu? Ah, sepertinya memang begitu.
Dan ini lah surat terakhir untukmu. Tanpa rasa, tanpa penantian yang bersisa.

Selamat tinggal.
Sampai jumpa di masa depan.
Saat kita bertemu nanti, semoga saja hati ini tak hidup kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.