Apakah kamu ingat hari yang sama seperti ini?
Apakah kamu masih dapat mengingatnya?
Mungkin kamu memang sudah lupa, dan aku pun tak berharap jika kamu masih mengingatnya.
Hari yang sama seperti ini,
di waktu seperti ini,
kita bercakap dari saat terang hingga gelap datang.
Melintasi sore memburu senja dan jingga hingga petang habis dan berlalu.
Kamu ingat saat itu? Saat kamu mengucap “Halo..” untuk pertama kalinya.
Pada suatu dini hari, seminggu sebelumnya. Aku terkejut saat menemukan kupu-kupu berterbangan di kotak suratku yang sudah berdebu. Lalu aku mendapati lembaran surat di sana. Lembaran surat darimu. Sejak saat itu, kita saling berkirim surat, berbagi kata-kata yang menggelitik dan sesekali mengusik.
Setiap kali, aku selalu menemukan kupu-kupu mengembangkan sayap indahnya bersama surat-surat yang kamu kirimkan di kotak surat tua yang kini terlihat megah. Setiap hari selalu terasa menyenangkan saat memeriksanya, tak seperti sebelumnya ketika kotak suratku hanya berisi surat tagihan, pengumuman, dan pemberitahuan lainnya yang tak seberapa penting.
Saat itu aku percaya, bahwa aku telah menemukanmu.
Akhirnya aku menemukanmu.
Yang aku cari selama ini.
Bahkan hingga hari ini, aku masih ingin mempercayainya.
Masih ingin terus mempercayainya.
Lalu pada suatu hari, tak ada lagi kupu-kupu yang dapat kutemukan saat membuka kotak surat. Setelah sebelumnya kulihat kupu-kupu hitam, yang tak pernah kuduga jika itu adalah surat terakhir yang aku terima, di suatu sore yang kelam. Setiap hari aku memeriksanya untuk menyakinkan diri bahwa mungkin saja surat darimu tersesat entah di mana atau terjatuh terbawa angin atau melenyap tersapu hujan. Aku pun berkali-kali mengirimkan surat dengan berharap mendapatkan balasan, tapi sepertinya suratku pun tersesat entah di mana atau mungkin tak pernah terbaca. Ternyata, sejak saat itu, surat darimu tak lagi pernah ada yang tiba. Tak pernah lagi kamu kirimkan, bahkan sepertinya tak pernah kamu tuliskan sekata pun.
Dulu, aku tak pernah ingin menganggap bahwa kamu akan pergi, bahwa kamu akan tak bersamaku lagi. Aku selalu mencoba berpikir bahwa kamu tidak akan pernah ke mana-mana, kamu tetap di sini. Hanya agar aku tak terlalu merasakan kehilangan. Karena baru membayangkannya saja selalu membuatku remuk redam. Karena kamu tahu kan, aku membenci yang namanya ditinggalkan. Meski pada akhirnya aku mengerti. Dan belajar berdamai dengan kata ‘kehilangan’ ini. Karena, bukankah saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang berarti juga harus siap untuk kehilangan?
Tapi kini aku malah berharap jika kamu benar-benar pergi saat itu. Karena mungkin saja semuanya akan menjadi berbeda, tak seperti begini. Agar janji-janji yang pernah terucap menjadi memiliki arti. Mungkin hanya perasaanku saja, aku seperti diabaikan. Kehadiranku seolah-olah tak pernah kamu anggap lagi. Tak mengapa, karena selama ini sepertinya hanya aku yang menaruh harapan besar terhadapmu. Sedangkan kamu, mungkin menganggapku hanya sebagai seseorang yang tak sengaja lewat dan tersesat di hatimu, seseorang yang hanya sekedar lewat begitu saja di kehidupanmu.
Oh, ya. Tentang janji-janji kecil kita, aku masih memegangnya hingga saat ini. Dan untuk waktu yang lebih lama lagi. Tapi sepertinya kamu juga sudah lupa, atau mungkin kamu memang tak pernah mengingatnya sama sekali, ya. Ah, biarkan lah saja. Tak perlu kamu pedulikan itu semua.
Sampai hari ini, aku masih menunggu lembaran surat darimu, beserta kupu-kupu yang biasa kamu sertakan di kotak surat itu. Tapi aku tak lagi banyak berharap jika kamu akan mengirimkannya. Jika memang tak pernah akan ada, tak mengapa.
Aku sudah mulai merelakannya.
Dan pada akhirnya, aku tak akan pernah mengucap “Selamat tinggal” tetapi memilih mengucap “Sampai jumpa lagi”, karena aku yakin dan masih percaya bahwa kita akan dipertemukan kembali meski dalam keadaan yang berbeda dan tak akan pernah sama, tak lagi seperti waktu dulu itu.
#nowplaying: You Had Me at Hello – A Day To Remember
Like this:
Be the first to like this post.