kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

racauan terakhir

saya di bulan, mengumpulkan puisi kesunyian. dan katanya di bulan ada puisi, tapi di mana?
katanya di bulan ada puisi, jadi saya cari mencari. ternyata di bulan banyak kunang-kunang. senang! lalu ada kotak-kotak yang akan tetap dibiarkan kosong. lalu ada rumah-rumah yang akan tetap terbakar habis, sendirian. pasti menyenangkan jika kita berjalan jauh hingga tersesat lalu tertawa terbahak karena tak menemukan jalan pulang. lalu aku menemukan lubang hitam di dalam mimpi, tempat menyembunyikan berbagai cerita yang tak boleh terceritakan. bulan menghilang. bulan mati. lalu serpihan hati yang mati, tak pernah kembali. sepi tak lagi bicara, terhenti. menyusuri lorong sepi yg terlalui setiap malam di antara temaram bulan yg melenyap, sunyi senyap. sayup-sayup sepi membahana di sudut-sudut jalan hingga wajahmu terbiaskan di selokan. lalu aku melangkahkan kaki di tepi perkuburan, mengamati setiap nisan-nisan, tua, rapuh, dan menyedihkan. katanya di bulan ada puisi? bohong. di bulan hanya ada kunang-kunang dan potongan hati yang mati berserakan. lalu semua menjadi penuh. kepala. telinga. suara-suara menderu-deru tak usai meneriakkan kesunyian. celaka. aku mengejar bulan sabit yang berlari di antara marka yang tak terhenti. dan bintang, menyelipkan kenangan. kita menatap bulan sabit yang sama. tertawa angkuh, mencibir tanpa ragu. kenangan, apa artinya bagimu? menghitung bintang, katamu? bagaimana jika lelap tak berkunjung dan menyisakan tanya yang tak berujung? kita mulai menghitung bintang satu-satu dan menyesakkannya ke dalam saku. lihat, bulan sabit merona. terkesima. tetapi aku sendirian dan tak ada jemari untuk kugenggam. bulan mati. menyelinapkan sabit di balik punggungnya. menikam harapan, menghunjam mimpi yang menyuram. suara-suara meracau tak tertata, berteriak ke segala arah. aku menutup telinga. aku menutup mata. menutup hati. menutup diri. anginnya kencang, menjatuhkan mimpi-mimpi, melontarkan tanpa arti. seperti akan datang badai. badai kehidupan.

aku sudah bilang, ada saatnya kita perlu menarik garis, membatasi diri, agar tidak terbenam terlalu dalam.
kita menarik garis untuk menekankan “ini adalah batas yang tak boleh kau lewati, maka berdiri lah saja di ujung sana.” seketika, ia mengingatkanku padamu. aku melihat lagi berbagai hal yang sempat melenyap, di malam yang sunyi senyap. aku masih menumpuk cerita di hutan-hutan sunyi. tadi rembulan kau sajikan di meja makan, kita lahap setengah bagian. dan segelas hati yang membeku, terabaikan. berdiri lah kau di ujung sana, di rimbunan bahagia. dan biarkan aku yang berdiri di sini, di tepi jurang yang sepi. bagaimana jika ternyata kita terjebak di labirin yang salah? di pintu masuk ini, lubang hitam menanti. membutakan telinga. menulikan mata. mencecar halusinasi suara yang tak henti berkata. kosong. biarkan kosong. lalu aku akan meledak menjadi debu dan menyelinap menyesaki paru-parumu. aku akan menguap menjadi udara dingin yang memeluk tiba-tiba. dan kau tak akan pernah menemukan kehangatan, di mana pun. aku merindukan menyusuri jalan di pagi buta dalam dingin, menujumu. aku berjalan lama di dalam temaram sunyi, dan di sebuah sudut sepi, sebuah hati benar-benar telah mati.

mungkin sesekali kita perlu bertukar tubuh agar kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku yang merindu sebegitu hebatnya. apakah ketika jumpa nanti kita akan selalu berbagi pelukan yang enggan dilepaskan? aku membaca kembali semua lembaran kata yang telah lusuh di dalam kotak surat tua yang terabaikan. menjadi usang dan terlupakan. ingin memaki malam dan runtuhkan dinding yang angkuh. tapi bukankah kita terbiasa saling melupakan? lalu rindu ini apa? rajutan-rajutan emosi menggantung di setiap sisi kamar yang sepi. lalu kamu pura-pura lupa: jarum di hati ini, milik siapa?

ia telah kembali. entah kejutan apa lagi yang dibawanya kini. ia menarikku dan bersembunyi di balik pintu. mengajak ku pergi. berlari.

[catatan (mungkin) penting: racauan-racauan akhir dari twitter, acak, dan tak perlu dicernakan.]

Comments are closed.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.