bermula dari sebuah ruang, suatu senja di minggu sore, setelah hampa menemukan artinya. saat ruang kosong itu yang tak lagi sunyi. penuh suara, suara-suara yang tak terdengar. tertumpuk kata, tanpa tanda baca. bertumpuk makna, tak pernah diketahui.
sendiri menggambar sepi di dinding kamar, besar. tak berwarna dengan goresan tak beraturan, melingkar.
saat kau menemukanku, mungkin kau tak akan pernah tahu itu siapa.
aku yang mana?
dan sebuah tanya selalu dimulai dari: sini.
***
ada ubur-ubur di langit. berwarna merah muda. bersirip.
ada pelangi senja di malam buta. melintasi gang sempit di pusat kota.
dan lampu warna warni tampak mati, menggambar sunyi.
ada kerikil tersepak di tepi jalan berdebu, tak terbaca dalam cuaca.
dan dedaunan jatuh, menyusuri jalan yang semu.
ada potongan sepi berserakan di jalanan dengan marka yang memudar,
di setiap goresan gambar senyuman pada dinding gedung tua, di kamar-kamar.
ada bayangan terang tersembunyi di balik redup lampu taman.
penggalan-penggalan tanya yang tergores di kursi-kursi tua. ada gelisah sepertinya.
ada lukisan tanpa wajah, menatap hampa.
di sudut rumah itu, di ujung jalan yang buntu.
dan nama nama tak berhuruf, terpaku.
ada langkah terseret penuh gaya di antara bangunan megah. mengintip.
ada lirikan tak bertuan, terukir di batang pohon, kamboja, tak berkawan, tak bernyawa.
ada bisik-bisik, di deru-deru kebisingan tanpa suara.
ada kata-kata tak terbaca.
dan kotak korek api, seperti petaka di gelap sepi.
ada kotak surat tak terpakai, bersandar malas pada pagar rumah entah milik siapa.
ada pesan tertinggal, tak pernah sampai.
ada pohon tua yang melambai, dedaunan jatuh. memanggil hujan.
padahal kebun kentang sudah siap panen. ada penjaga bergaya keren.
ada genangan-genangan kecil di jalanan basah, terbuyarkan langkah-langkah kaki yang tergesa-gesa.
dingin beringsut pindah. hendak ke mana?
ada sebuah payung yang tak henti menunggu terlipat.
mengumpat tak henti, dihujam tajamnya titik hujan.
ada yang mencari senyum, terlupa bagaimana cara meletakkan di wajah.
ada yang meraba tawa, tak ingat cara menyuarakannya.
ada badut berhidung biru, berpipi merah, malu-malu.
“ini senyuman” sambil menggambar lengkungan di bibirnya, palsu.
ada kekusutan, dan setrika rusak yang tak lagi berfungsi.
katanya di bulan ada puisi? di mana?
tapi di bulan ada pesta kunang-kunang, tengah hari.
monster kentang berlari-lari, cari mencari.
ada pertanyaan yang tak terjawab, tak pernah.
ada malam-malam terlalui tanpa spasi.
ada mimpi-mimpi yang tak bertitik. tak berkutik.
ada racauan tanpa makna, ada caci maki tanpa henti.
ada suara-suara tanpa kata, ada gurauan tanpa arti.
ada yang hilang, di sini.
ada yang selalu sama, dan tak pernah berubah.
memaki sepi. mencintai sunyi.
ada yang hilang, selalu ada yang hilang.
hentikan. bilang pada cermin: hentikan!
ada yang bertanya, ada yang semakin bingung, sendirian.
sekian.
***
katanya semalam ada hujan meteor. ramai. di mana? di hatiku.
apa rasanya hujan meteor, tuan?
seperti rasa selai kacang nanas, dalam roti yang panas.
dan katanya hujan tak berhenti. di mana?
di sudut lorong kecil tak berujung ini. tempat ubur-ubur merah muda bersembunyi. seperti pohon mati yang tak menghijau lagi. tak tersenyum, tak tertawa. tak lagi bicara. segenggam api, memeluk, tak henti menunjuk.
dan kapan terakhir kali kita berkata tentang rindu?
ah hentikan, sudah.
racauan gila ini tak akan pernah usai, selesai.
[catatan (mungkin) penting : rangkaian racauan di twitter, 5-7 desember, dan bergabung dengan kata-kata di tempat ini. bukan sesuatu yang harus kau mengerti, meski sesuatu itu selalu ada, pasti.]
Like this:
4 bloggers like this post.
Bagus ya kicauannya di twitter kalau dirangkai jadi beda gitu. Paling suka yg badut gambar senyum sama hujan meteor
anjir keren mampos..ga diragukan lagi..ditunggu buku nya…haha
Kalo mau baca ini harus punya twitter juga??
beul becul becul, kalo nico nerbitin buku, aku orang pertama yang.. bakal minta gratisan nya :p
salam buat si ubur2 merah bersirip, yap
ada badut berhidung biru, berpipi merah, malu-malu.
“ini senyuman” sambil menggambar lengkungan di bibirnya, palsu.
suka bagian ini, tuan
;P
*klik favourite*
haduh perih mataku, gabisa baca postingannya.. *alesan*
ada malam-malam yang terlalui tanpa spasi
ada malam-malam yang kutunggu pagi hingga 1000 tahun
ada jangkrik yang mengerik dan suara burung hantupun memecah keheningan malam
dan
akupun tertidur meniduri harapan yang tertunda dan dibisiki oleh malaikat
bahwa malam segera habis dan
pagi tlah datang
met beraktivitas
ada kotak surat tak terpakai, bersandar malas pada pagar rumah entah milik siapa.
ada pesan tertinggal, tak pernah sampai.
ah, racun nih bang.
suka
Wow… Nice…
meski sudah berkali-kali baca ini, rasanya gw tetep mau klik ‘like’ terus-terusan, ko…
Saling berkesinambungan, kalau dibaca berulang-ulang ga ngebosinin euyyy, salut deh
mantap sekali ini kawan…
Ini Nico banget. Suka.