kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

Suara Tuhan

“Hei, Nak! Sini! Jangan jauh-jauh. Ayo dipakai dulu kepalanya!”
“Iya, Ma! Sebentar!”[1]
Anak itu berlari menuju ibunya. Aku tak sempat memperhatikan mereka. Langkahku terlalu terburu-buru karena aku sudah terlambat untuk pulang. Lagi pula jalanan yang sudah gelap membuatku tak berminat untuk melirik ke sana ke sini.

Tunggu. Dipakai dulu kepalanya? Apakah aku tidak salah dengar? Kepala anak itu terlepas? Atau dilepas?
Aku mempercepat langkah dan berharap salah mendengar. Aku ingin menengok ke belakang, tetapi aku terlalu takut.

***

Aku meletakkan tas ransel di atas meja di kamarku dan mulai membongkar isinya. Teman-temanku sering berkata bahwa tas milikku ini adalah kantong ajaib seperti yang pernah mereka lihat di televisi setiap minggu pagi, karena mereka bisa menemukan segala macam benda di dalamnya—benda-benda yang saat itu mereka butuhkan dan benda-benda yang mengejutkan. Seorang temanku malah pernah menemukan celana dalam pacarnya di dalam tas ini. Kemudian dia memukuliku. Lalu aku mematahkan lehernya. Padahal aku tidak pernah tahu bagaimana benda-benda aneh itu bisa ada di dalam sana.

Seketika aku terkejut. Mataku membelalak. Karena kali ini, aku menemukan pisau dengan noda merah gelap yang basah. Bagaimana benda itu bisa ada di dalam sini? Apakah aku pernah menggunakannya? Tubuhku melemas. Aku tidak pernah tahan melihat darah. Bau anyirnya selalu membuat kepalaku terasa sakit dan berputar-putar, dan warna merahnya yang pekat selalu membuat detak jantungku berpacu dengan cepat. Tanganku tak henti bergetar sehingga pisau itu terlepas dari tanganku dan melesat jatuh ke lantai kamar. Kuperhatikan telapak tanganku yang menjadi penuh noda merah itu. Benarkah ini memang darah? Apa yang baru saja kulakukan?
Read more of this post

kita pernah duduk berdua sebelum lupa

kau pernah datang membawa sangkar kayu kecokelatan yang berisi makhluk-makhluk kehijauan. memerah-merah.
kau menghampiri, dan aku berlari.
tak lama kemudian, makhluk-makhluk itu mati.
bukan karena racun.
tapi merahnya yang luntur membuatnya mendengkur. selamanya.

kita pernah duduk berdua bersandar pada tembok dingin di bilik-bilik yang berangin. tak berjendela, karena kau takut jika ada yang akan mengintip kita.
kau bercerita tentang sesuatu yang aku sudah lupa.
aku bertanya padamu tentang sesuatu yang tak bisa kuingat sama sekali.
kita tidak saling menatap.
hanya menerawang dan menghitung kotak-kotak di langit-langit kamar yang bersarang-sarang.

aku pernah menggambar bibirmu di dinding-dinding gelap berlumut di dalam pekat. gincu merah menyala kugores-goreskan di bibirmu yang semu.
aku menuliskan nama.
memudar.
kutuliskan kembali.
tetap memudar.
kemudian kau hilang, dan aku heran. karena aku tak merindukanmu.

aku pernah meminum susu dari payudaramu yang penuh.
aku pernah menjilati tuba dari putingmu yang luka dan berduka.
aku tak berhenti.
kau kebingungan.
aku tidak mati.
tapi kemudian kau pergi, dan aku melupakanmu.

:untuk hal-hal yang tak pernah bisa kuingat
— angkot cicaheum-ciroyom, bandung.

DecorativeJI?

Warna Impian. Apa sih yang kalian pikirkan setelah mendengar dan membaca kata itu? Apakah sama seperti yang saya pikirkan setiap kalinya? Warna-warna yang menjadi impian kita. Maksudnya? *bingung* Warna-warna ideal untuk kehidupan kita. Warna-warna untuk rumah-rumah kita, tempat tinggal kita. Warna-warna yang kita inginkan ada di sekeliling kita. Jotun bersama Warna Impian–nya kali ini mengadakan kompetisi Jotun Blogger Challenge. Ngapain? Cukup menceritakan pengalaman menggunakan aplikasi DecorativeJI.

Apa sih DecorativeJI itu?

DecorativeJI merupakan aplikasi yang dikeluarkan oleh PT Jotun Indonesia untuk smartphone. Aplikasi ini dibuat agar para pengguna dapat mengakses layanan—yang beberapa di antaranya biasa ditemukan di warnaimpian.com—dengan lebih mudah, meliputi artikel-artikel dan fitur tambahan lainnya. Bahkan ada games-nya, loh.

Setelah menghadiri Meet & Greet dengan Warna Impian Expert Corner bertema “Better Home for Our Children” pada bulan Januari yang lalu, saya jadi semakin sering membaca artikel-artikel tentang rumah.  Pewarnaan, dekorasi, dan sebagainya. Tapi sejak dulu saya memang sangat menyukai membaca hal-hal seperti ini. Saya berencana memiliki rumah secepatnya. Kalau itu, sih, tergantung seberapa cepat membengkaknya isi tabungan saya. *kayaknya bakalan lama banget* -__-‘

Untuk pengguna android seperti saya, aplikasi DecorativeJI bisa ditemukan di market. Jika susah mencarinya, masukkan keyword pencarian “Jotun Indonesia”. Trus, install, deh.

SC20130423-151646
Read more of this post

kelana sepasang kuda

sepasang kuda berlari. bergegas lepas  tak berhenti.  berderap-derap langkahnya menapak-napak, menjejak-jejak, meninggalkan debu-debu di jalanan yang tak menentu.

kita. sepasang kuda itu.

kita adalah sepasang kuda yang menarik kereta. tak kosong. kereta berpeti-peti berisi mimpi-mimpi. kereta berkotak-kotak, yang berkeretak di atas tanah dan bebatuan yang tergeletak tak berdaya diterjang cuaca yang menggila setiap harinya. berderak-derak di kegelapan seperti lolongan di malam-malam yang panjang.

kita berlari-lari mendaki perbukitan terjal di antara tebing-tebing yang dapat melongsorkan ingin-ingin. meluruhkan hasrat.  mencemaskan niat-niat yang akan berkarat jika terendam banjir atau tersapu hujan dan tersambar petir yang bersahut-sahutan. kita berkelana.  mengembara di padang-padang, di hutan-hutan, di taman-taman bunga yang bisa ditemui saat pagi menjelang. kita bergegas berlari menuju utara, ke seberang lautan yang penuh tanda tanya.

di ujung daratan, kita membangun perahu, dari harapan-harapan yang tak semu. merekat. menguat. dan tak membiarkan air mata masuk melesap, membasahi, merembesi lalu menenggelamkan kita  dan mimpi-mimpi yang belum akan diakhiri.

kita, adalah sepasang kuda yang menarik kereta, tanpa pengemudi, karena hanya kita yang berhak menentukan arah berlari.

Talkshow: Better Home For Our Children bersama Warna Impian

Awalnya saya agak terkejut waktu diajak untuk menghadiri semacam talkshow, tentang interior katanya. Wah, jelas saja saya antusias sekali. Karena hal-hal seperti ini merupakan kesukaan saya yang sejak dulu hanya dapat bercita-cita untuk menjadi arsitek, atau dokter. Oh, tentu saja kedua cita-cita itu hanya sebuah impian yang tidak berhasil diwujudkan. *nangis di pojokan*

Ternyata setiap tahunnya, Warna Impian selalu mengadakan meet and greet seperti ini, sehingga para pembaca setia, followers, dan fans, dapat berkonsultasi langsung dengan para pakar yang biasanya memang mengisi artikel di www.warnaimpian.com. Dan tahun ini adalah tahun ketiga diadakannya acara ini. Kali ini Warna Impian mengangkat topik “Better Home For Our Children” bersama arsitek Ary Indra dan praktisi feng shui BundaFira dan SiOom Lurry dari Geomancy Elements di Warna Impian. Di acara ini, kita akan tahu bagaimana solusi praktis dan cermat dalam mendesain hunian yang baik untuk anak kita.
Read more of this post

26

Dua puluh enam.

Adalah sebuah angka yang istimewa bagi saya, selain tiga.

Sederhana saja, karena dua puluh enam merupakan tanggal ketika saya dilahirkan ke dunia.
Dan ajaibnya lagi, saya memiliki dua hari kelahiran. Bertanggal sama, 26, tetapi dengan bulan yang berbeda, Desember dan Februari. Bagaimana biasa? Ah, ceritanya panjang, dan saya bosan menceritakan bagian ini.

Baiklah, akan saya ceritakan sedikit. Sedikit saja.

Alkisah, pada usia 18 tahun, saya baru mengetahui fakta terbesar tentang hidup saya, bahwa… selama ini tanggal lahir yang saya ketahui itu salah. Apa?! Tanggal lahir berdasarkan akte kelahiran itu sebenarnya salah. Bukan 26 Desember melainkan 26 Februari.
Read more of this post

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 25 other followers