sepasang kuda berlari. bergegas lepas tak berhenti. berderap-derap langkahnya menapak-napak, menjejak-jejak, meninggalkan debu-debu di jalanan yang tak menentu.
kita. sepasang kuda itu.
kita adalah sepasang kuda yang menarik kereta. tak kosong. kereta berpeti-peti berisi mimpi-mimpi. kereta berkotak-kotak, yang berkeretak di atas tanah dan bebatuan yang tergeletak tak berdaya diterjang cuaca yang menggila setiap harinya. berderak-derak di kegelapan seperti lolongan di malam-malam yang panjang.
kita berlari-lari mendaki perbukitan terjal di antara tebing-tebing yang dapat melongsorkan ingin-ingin. meluruhkan hasrat. mencemaskan niat-niat yang akan berkarat jika terendam banjir atau tersapu hujan dan tersambar petir yang bersahut-sahutan. kita berkelana. mengembara di padang-padang, di hutan-hutan, di taman-taman bunga yang bisa ditemui saat pagi menjelang. kita bergegas berlari menuju utara, ke seberang lautan yang penuh tanda tanya.
di ujung daratan, kita membangun perahu, dari harapan-harapan yang tak semu. merekat. menguat. dan tak membiarkan air mata masuk melesap, membasahi, merembesi lalu menenggelamkan kita dan mimpi-mimpi yang belum akan diakhiri.
kita, adalah sepasang kuda yang menarik kereta, tanpa pengemudi, karena hanya kita yang berhak menentukan arah berlari.