kamar depan

―di sudut kamar yang seLaLu penuh dengan kata-kata―

Mak.

Selama ini di kehidupan saya, terdapat beberapa orang wanita yang sudah saya anggap sebagai ibu meski ada yang tak memiliki hubungan darah, kehadiran mereka semacam menggantikan keberadaan ibu saya yang entah ada di mana.

Seorang di antaranya adalah ‘Mak’, saya dan kami biasa memanggilnya begitu. Beliau adalah ibunda dari istri kakak saya, yang biasanya ikut tinggal beberapa bulan di rumah kami ketika beliau ingin, biasanya beliau tinggal di kota lain bersama kakak dari ipar saya. Seorang penikmat kopi yang tak bisa melewatkan sehari pun tanpa kopi. Wanita tua yang sering melamun sendirian di kursi dapur. Memiliki tatapan sendu dan senyum tawa yang menyenangkan.

Sebagai anak yang telah ditinggalkan seorang ibu, kehadiran Mak bagi saya semacam turut menggantikan keberadaan ibu kandung saya. Saya senang.

Terakhir kali saya bertemu beliau adalah tahun lalu. Dan hari ini, pagi buta, habis masa bermukimnya di dunia. Mak harus pergi meninggalkan kehidupan ini. Tapi saya tidak dapat hadir di pemakamannya karena berbeda kota dan jauh sehingga tak memungkinkan bagi saya untuk ke sana.

Saya semacam ingin menangis seharian, mengurung diri di kamar. Saya tidak siap. Tak siap kehilangan lagi. Tapi akhirnya, saya sadari bahwa kehidupan ini pasti berakhir. Dan pada saatnya nanti, satu persatu orang yang kita sayangi akan pergi dan tak pernah kembali. Bagaimana pun harus siap, akan ada saatnya ditinggalkan atau bahkan harus meninggalkan. Lalu air mata sebaiknya digantikan oleh doa. Biarlah beliau tahu, bahwa saya melepasnya dengan senyuman, bukan kesedihan.

Mak, seharusnya kita menyempatkan diri untuk menikmati secangkir kopi di meja makan sambil bercerita tentang hal-hal yang luar biasa. Sayangnya itu tak pernah terlaksana. Mungkin di kehidupan lainnya kita dapat melakukannya.

Sepanjang pagi, hujan turun. Dan sepanjang malam ini sedari sore, hujan kembali turun. Tak berhenti. Dan sebuah lagu renungan, saya mainkan berulang dalam kesenduan di antara air mata yang mencuri celah untuk jatuh.

Di Langit pagi ini, aku melihat tangga menuju Tuhan, dan kau berjalan menujunya, melambaikan tangan..
Hujan mengiringi, mengantarkan jiwa yang pergi…

#nowplaying: [tangga menuju tuhan - kertasburam]

Di tanggal tiga, hari ini, lagi, salah seorang yang saya sayangi akhirnya pergi.
Mak, selamat jalan. Semoga di sana dirimu tetap dapat menikmati kopi hitam kesukaanmu.

Karena kehidupan (sesungguhnya memang) bukan hanya seperti ini

“Terjaga di malam buta tidak lah pernah menyenangkan, terlalu banyak yang dipikirkan. Semua hal seperti balon warna-warni yang berterbangan hingga ke langit-langit kamar ini, berebut berdesak berlomba keluar jendela, berteriak tak berarah kemudian meledak satu-persatu, menyisakan degup yang berantak dan detak-detak yang tak lagi damai terjejak.

Terjaga di malam buta selalu menyakitkan. Ketika hidup, kematian, cinta, rindu, kehilangan, dan semua sukadukaluka bergumul di kepala. Sakit. Seakan kepala ingin dilepaskan dan dilemparkan ke kolong ranjang.

Lalu perlahan pisau tajam di meja telah berpindah dari tempatnya.” ― rabutiga

Read more of this post

Ketika Kami Tak Lagi Tercerna

Aku adalah puisi yang terlahirkan sungsang dari rahim-rahim yang kesepian.

Aku adalah puisi yang terucap lantang dari bibir-bibir yang kekeringan.
Berpangut sepi. Bercumbu perih.
Bertata kata tak lekang menjerat dahaga.

Aku adalah puisi yang tak perlu Kau cecar komentar. Tak perlu Kau remeh terlontar.
Aku adalah kebebasan yang mengoyak-koyak jala aturan.
Berbelit di balik jemari besi yang mencekik pembuluh yang semakin menyempit.

Karena Aku adalah potongan hatimu, yang terkapar di pualam biru.

Dan Aku adalah kata, yang tak perlu Kau cari makna.

Tidak kah Kau dapat pikir ini apa?

Ketika Hujan Jatuh

Aku mendengar suara langkah hujan yang mengendap-endap di atap rumah, ketika gulungan awan kelabu menyesaki langit siang yang menggerutu. Dan pada hijaunya rerumputan, aku bicara. Pudar. Dan pada hijaunya dedaunan, aku berkata. Pekat tak lagi samar.

Aku mendengar suara langkah hujan perlahan menapak-napak di sela atap. Berjingkat bersembunyi. Semacam takut jika kehadirannya kuketahui. Dan pada memerahnya tanah, aku bicara. Mati. Dan pada merahnya pagar-pagar rumah, aku berkata. Menusuk dan tajammu merintih.

Aku mendengar suara langkah-langkah hujan yang mulai berlarian. Bergemuruh kencang dari jauh seperti derap pasukan perang. Berlari, beraturan, seolah menghindari musim bermukim di langit kelam. Dan pada putihnya dinding-dinding rumah, aku bicara. Terkikis, tak dapat menangis. Dan pada cokelatnya noda-noda tanah yang berhamburan tak terarah, aku berkata. Bergembiralah.

Aku semakin mendengar suara langkah hujan yang berjatuh-jatuhan bersama tubuh gemuknya. Berdebam-debum di sana di sini. Tumpah. Menjatuhkan diri tanpa bersisa. Dan pada rentanya pepohonan, aku bicara. Kesepian, tidak kah tumbang saat petang menjelang? Dan pada muramnya dinding yang mendingin, aku berkata. Diabaikan, tidak kah bagimu itu menyenangkan?

Aku masih mendengarkan hujan berteriak tak bertuju. Dan aku meracau tak menentu. Bagaimana hujan dapat mengerti aku jika kami tak saling berucap kata? Dan pada birunya yang hilang, aku tak ingin bicara. Tercekat, terhimpit sangat. Dan pada kelabunya yang usang, aku tak lagi berkata. Sunyi, meredupi suara. Terhenti.

Lalu langkah hujan tampak lunglai, bergegas menjemput badai.
Dan hari ini kita mati, lagi. Dua kali.

Rabu Kabisat

Hari ini tanggal 29 Februari, tanggal yang hanya muncul di tahun kabisat setiap empat tahun sekali. Saya adalah pemuda hari Rabu yang tentu saja mencintai hari Rabu, hari yang selalu menyenangkan, dan saya juga mencintai Februari, bulan yang selalu mengagumkan. Dan kombinasi ketiganya adalah hal yang luar biasa dan membuat saya bahagia. Sehingga hari ini semacam hari yang istimewa, Rabu kabisat, ketika 29 Februari bertepatan di hari Rabu ini. Saat saya ingin melakukan banyak hal yang akan terus diingat hingga berdekade berikutnya.

Saya memiliki impian kecil, suatu hari, saya akan menikah di tanggal 29 Februari ini, lebih bagus lagi jika bertepatan di hari Rabu juga, saat saling mengucap janji dengan seorang yang akan saya cintai sampai mati.

Apakah seseorang itu adalah kamu?

Hey, Kamu: Tunggu Aku.

Hey, Kamu.

Aku melangkah dalam cemas menujumu, di malam yang terasa sepi dan dingin, saat waktu seolah mempersulit perjumpaan kita. Aku membawa hujan di sela-sela jemariku, menggenggamnya erat untuk kemudian kutebarkan agar kita dapat bercanda di bawah derasnya. Dibalut hangatnya jaket ungu, saat itu, aku melihat langit senja membias di matamu, di balik kacamata, dan kutemukan keteduhan di sana. Juga kedamaian di setiap alunan suaramu. Aku suka.

Kita bercakap di antara pantulan kaca-kaca jendela. Bercerita berbagai hal. Berbincang dalam kenyamanan. Bertatap dalam setiap kata yang terucapkan. Ketika akhirnya hijau dan sekotak susu akan selalu membuatku teringat akan kamu.

Kamu boleh sebut aku sebagai lelaki di masa depan yang datang ke masa ini hanya untuk menjemputmu dan membawamu berjalan menyusuri waktu dan hari-hari yang akan dilalui. Membawakan senyum yang akan menghiasi bibirmu setiap waktunya. Berpetualang menuju tempat ternyaman bagi kita berdua. Aku percaya bahwa semesta telah merancang ini semua. Semesta berkonspirasi menghadirkan pertemuan kita.

Sekarang, di sini, di seberang lautan, hujan, turun teramat deras, seperti kerinduan yang pekat dan berjatuhan bebas. Seperti hati yang ingin kembali lagi dan tak akan pernah pergi. Di balik secangkir kopi hitam, ada harap yang tak henti digumamkan. Mungkin kah nanti kita akan dapat lebih banyak menghabiskan waktu berdua? Berbagi banyak hal yang akan membuat kita tersenyum dan tertawa? Mungkin saja kita dapat menghabiskan malam di bawah bintang, di antara embusan udara malam, di antara hangatnya jemari yang saling menggenggam.

Aku masih ingat kata-katamu di suatu siang ketika aku memintamu berhati-hati saat kita bertemu, “Kalau kata buku yang saya baca, kata hati-hati itu sama dengan selamat. Dan selamat itu kata yang notabennya baik. Berarti saya akan selamat ketemu kamu..” Lalu, apakah kamu selamat setelah bertemu diriku? Dan ikut terjatuh juga, sama seperti yang aku rasa?

Empat hari yang panjang dibutuhkan untuk menuliskan kalimat-kalimat ini, menyelipkan kerinduan yang pekat, yang berdesakkan di antara setiap spasi, berserakan di setiap sisi hati yang mendekap. Jika kamu melihat derai hujan, damainya langit senja, sejuknya langit pagi, hijaunya pepohonan, percayalah bahwa ada aku yang sedang menatapmu dari langit di ujung sana. Meski di tempat yang berbeda, kita menatap langit yang sama.

Aku akan kembali. Tunggu saja. Dan kini kusertakan peluk hangat untukmu di balik setiap kata yang tertuju ini.

Hey, Kamu.
Tunggu aku. Mau kah?

“Pada suatu pagi, kita akan bertemu mata, bertatap muka, saling menggenggam, dan berbicara tentang apa saja hingga malam.”

image
#LangitPagiIni: Biru. Sangat. Seperti kerinduan yang menyengat. Pekat.

catatan: Ini surat ke dua setelah surat pertama yang kutuliskan untukmu. Mungkin saja akan ada surat-surat berikutnya. Berhati-hatilah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.